Minggu, 08 Juni 2008

Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Inteligensi

A. PENDAHULUAN
Kontroversi mengenai apakah inteligensi lebih ditentukan oleh factor bawaan ataukah oleh fakor lingkungan terus berlangsung. Pada masa sekarang ini boleh dikatakan sudah tidak ada lagi psikologi yang berpandangan cukup ekstrim untuk mengatakan bahwa inteligensi merupakan atribut bawaan yang ditenukan oleh factor-faktor keturunan secara murni maupun yang sebaliknya mengatakan bahwa intelegensi hanya ditentukan oleh factor lingkungan sebagai hasil belajar semata-mata. Pokok perdebatan masa kini beralih pada factor manakah yang lebih menentukan terjadinya perbedaan inteligensi individu yang satu dengan yang lainnya, apakah factor bawaan yang diwariskan berdasar keturunan ataukah factor lingkungan yang dipelajari oleh individu. Namun pada makalah ini kita akan membahas lebih mendalam mengenai beberapa factor lingkungan yang mempegaruhi inteligensi seseorang.

B. Faktor-Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Inteligensi
1. Faktor Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan faktor pendukung terpenting bagi kecerdasan anak. Dalam lingkungan keluargalah anak menghabiskan waktu dalam masa perkembangannya. Pengaruh lingkungan rumah ini berkaitan pula dengan masalah:
v Stimulasi
Untuk menjadikan anak cerdas, faktor stimulasi menjadi sangat penting, baik yang berkaitan dengan fisik maupun mental/emosi anak. Orang tua dapat memberikan stimulasi sejak buah hatinya masih dalam kandungan, saat lahir, sampai dia tumbuh besar. Tentu saja dengan intensitas dan bentuk stimulasi yang berbeda-beda pada setiap tahap perkembangan. Contohnya ketika masih dalam kandungan, stimulasi lebih diarahkan pada indra pendengaran menggunakan irama musik dan tuturan ibu atau ayah. Setelah anak lahir, stimulasi ini diperluas menjadi pada kelima indra maupun sensori-motoriknya. Begitu juga stimulasi lainnya yang dapat merangsang dan mengembangkan kemampuan kognisinya maupun kemampuan lain.
Secara mental orang tua juga menstimulasi anak dengan menciptakan rasa aman dan nyaman sejak masa bayi. Caranya? Dengan mencurahkan kasih sayang, menumbuhkan empati dan afeksi, disamping memberi stimulasi dengan menanamkan nilai-nilai moral dan kebajikan secara konkret. Stimulasi yang diberikan secara efektif jelas dapat membuat potensi kecerdasan anak mencapai titik maksimal.
v Pola Asuh
Pola asuh orang tua yang penuh kasih sayang diyakini dapat meningkatkan potensi kecerdasan si anak. Sebaliknya, tidak adanya pola asuh hanya akan membuat anak bingung, stres, dan trauma yang berbuntut masalah pada emosi anak. Dampaknya, apa pun yang dikerjakannya tidak akan pernah membuahkan hasil maksimal. [1]

1.1 Inteligensi Berkorelasi dengan "Head size"
Hubungan antara ukuran kepala dengan IQ sudah cukup lama menjadi subyek kontroversi. Tetapi penelitian dengan teknik neuroimaging membuktikan bahwa volume otak berkorelasi dengan IQ. Bukti ini didapat dengan mengukur ukuran helm tentara AS yang sedang mengikuti training dan dibandingkan dengan IQ-nya. Walaupun demikian korelasi tersebut cukup_kecil.

1.2 Hubungan Inteligensi dengan "Birth Order"
Kepercayaan bahwa anak pertama lebih cerdas dibandingkan anak berikutnya sudah lama menjadi kebenaran di masyarakat. Tetapi penelitian di AS membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara urutan kelahiran dengan inteligensi. Anak-anak yang lahir duluan dalam urutan kelahiran tidak mempunyai perbedaan IQ yang signifikan dengan anak-anak yang lahir belakangan.[2]
Sedangkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim Norwegia menemukan anak pertama, dan mereka yang kehilangan saudara lebih tua, sehingga kemudian menjadi yang tertua, mencatat skor lebih tinggi dalam tes intelegensi.
Adanya hubungan ini ditemukan setelah para peneliti mengkaji data dari 250 ribu tentara Norwegia, demikian BBC. Laporan tersebut dimuat_dalam_jurnal_Science. Selama berpuluh-puluh tahun, para ahli tidak sependapat mengenai bagaimana urutan kelahiran berpengaruh terhadap intelektualitas dan pencapaian prestasi.
Mereka yang mendukung teori ini mengatakan anak-anak tertua biasanya mendapatkan perhatian serius dari orang tua mereka sejak usia dini.
Yang lainnnya berpendapat bahwa perbedaan disebabkan ketika janin berkembang di dalam perut ibunya, dengan kehamilan berikutnya, sang ibu akan menghasilkan antibodi yang bisa merusak otak bayi.
Sementara yang lainnya mengatakan bahwa hubungan antara urutan kelahiran dan intelegensi adalah hal yang tidak benar, atau bias karena besarnya jumlah keluarga, secara historis, pasangan dengan IQ yang lebih rendah cenderung memiliki anak-anak yang lebih tinggi IQnya.
Professor Petter Kristensen, di Institut Nasional Kesehatan di bidang Kerja di Oslo dan koleganya Tor Bjerkedal, di Jasa Layanan Kesehatan Angkatan Bersenjata Norwegia mengatakan walaupun perbedaan IQ yang mereka temukan sedikit saja, namun ini penting artinya.
Mereka juga mengatakan bahwa alasan di balik penemuan ini karena faktor sosial, bukan faktor biologi. Sebagai contoh, pria yang lahir sebagai anak ketiga namun kemudian kehilangan kakaknya di awal kanak-kanak, sehingga kemudian dibesarkan sebagai anak kedua memiliki skor IQ yang mendekati anak-anak yang dilahirkan betul-betul sebagai anak kedua.
"Kami menemukan bahwa posisi sosial anak yang menentukan, dan bukan posisi biologinya yang menentukan." kata Professor Kristensen. Kepada harian Inggris, The Daily Telegraph, dia mengatakan IQ yang lebih tinggi pada anak sulung dicapai karena mereka mengajarkan sesuatu kepada adik-adik mereka. Kecenderungan anak-anak pertama mendapatkan tempat terhormat di mata orang tua mereka, dan juga mengambil peran sebagai kaka yang matang, berdisplin, menjelaskan juga mengapa anak-anak sulung ini IQnya lebih tinggi.[3]

2. Faktor Kesehatan
2.1 Hubungan Inteligensi dengan Maternal
Pengaruh lingkungan maternal terhadap individu sebenarnya telah diawali sejak terjadinya pembuahan. Sejak pembuahan sampai saat kelahiran, lingkungan ini telah mempengaruhi calon bayi lewat ibunya. Misalnya defisiensi kalsium dalam aliran darah sang ibu dapat menyebabkan abnormalitas tulang bayi. Seorang anak dapat terlahir cacat dikarenkan lengannya terjerat oleh tali pusat sewaktu masih dalam kandugan. Proses kelahiran itu sendiri dapat menyebabkan terjadiya luka seperti dalam kasus kelahiran yang sulit atau dikarenakan kepala bayi terlalu lama mengalami tekanan, yang akhirnya dapat berakibat kelemahan mental pada anak.[4]
Inteligensi lebih banyak diturunkan oleh ibu dibandingkan ayahPenelitian ini adalah penelitian terhadap pengaruh gen yang dominan yang diwariskan oleh orang tua terhadap anak dalam perkembangan inteligensinya. Hasilnya adalah bahwa inteligensi anak lebih banyak dipengaruhi oleh sumbangan gen yang berasal dari ibu dibandingkan dari ayah, tetapi seberapa besar perbedaan itu masih belum diketahui. Hal ini disebabkan karena gen inteligensi adalah salah satu gen yang kompleks.
Inteligensi sangat dipengaruhi oleh pemberian ASI. Anak-anak dengan pemberian ASI yang cukup, mempunyai Inteligensi yang lebih tinggi (sekitar 3 – 8 point) dibandingkan dengan anak-anak yang tidak diberikan ASI atau diberikan ASI dalam waktu yang singkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain adalah kandungan gizi dalam ASI yang berpengaruh terhadap otak bayi yang juga turut mempengaruhi perkembangan inteligensi bayi.[5]
Proses pembentukan sel-sel otak hanya terjadi sekali seumur hidup dan sel-sel otak yang mati tidak dapat digantikan oleh sel baru. Sedangkan perkembangan sel otak terpesat terjadi pada masa balita, sehingga masa-masa ini sering juga disebut sebagai masa keemasan anak.
Peran nutrisi bagi kecerdasan anak tak bisa diabaikan begitu saja. Untuk menjadikan anak sehat secara fisik dan mental, sebetulnya perlu persiapan jauh-jauh hari sebelum proses kehamilan terjadi. Tepatnya mesti dimulai ketika masa perencanaan kehamilan, sepanjang masa keha-milan dan akan terus berlanjut selama masa pertumbuhan anak. Kecukupan nutrisi berkaitan erat dengan perkembangan organ otak dan fungsinya yang akan menentukan kualitas anak di masa depan.
Tanpa nutrisi yang baik di masa-masa sebelumnya, kemungkinan besar pertumbuhan dan fungsi otak terhambat sehingga potensi kecerdasan anak menjadi rendah. Begitu pula kesehatannya secara keseluruhan. Tubuh yang lemah dan sering sakit-sakitan tentu saja juga memengaruhi potensi kecerdasannya.[6]
Untuk itu, selain pengalaman indera yang merangsang aktivitas dan mematangkan kerja otak, anak juga memerlukan nutrisi yang tepat untuk tumbuh kembang otaknya.
Salah satu zat gizi yang penting perannya bagi perkembangan otak si kecil adalah zat besi. Kekurangan zat besi akan mengakibatkan anak mengalami anemia (kurangnya sel darah merah) yang dapat menghambat pertumbuhan fisik dan intelektualnya.
Data penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% anak-anak mengalami anemia saat berumur 6 bulan yang berpotensi menurunkan IQ mereka sampai 10 poin.
Kekurangan zat besi dapat dihindarkan dengan cara memberikan air susu ibu (ASI) dlam jangka waktu panjang, memberikan makanan tambahan yang kaya besi pada bayi usia 4-6 bulan, makanan yang memudahkan penyerapan besi (daging, ikan, ayam, hati) pada saat pemberian makanan padat, dan menjaga kebersihan lingkungan, karena infeksi berulang dan infestasi (serbuan) cacing tambang dapat menyebabkan anemia karena kekurangan zat besi.



2.2 Hubungan Inteligensi dengan Life Spend
Setelah kelahiran, pengaruh factor lingkungan terhadap individu semakin penting dan besar. Proses yang paling berpengaruh setelah masa ini adalah proses belajar (learning) yang menyebabkan perbedaan perilaku individu satu dengan yang lainnya. Apa yang dipelajari dan diajarkan pada seseorang akan sangat menentukan apa dan bagaimana reaksi individu terhadap stimulus yang dihadapinya. Sikap, perilaku, reaksi emosional, dan semacamnya merupakan atribut yang dipelajari dari lingkungan. Seorang anak yang diasuh dalam keluarga yang terbiasa menjerit-jerit bila memanggil da menjerit-jerit pula bila memarahi akan tumbuh menjadi anak yang berbicara keras dan kasar. Seorang anak yang selalu ditakut-takuti pada dokter akan menyimpan konsep dokter sebagai ancaman, bukan sebagai penolong.[7]
Proses Perkembangan Intelegensi di tinjau dari factor lingkungan :
a. Perkembangan Intelegensi Bayi
Sejak tahun pertama dari usia anak, fungsi intelegensi sudah mulai tampak dalam tingkah lakunya, misalnya dalam tingkah laku motorik dan bicara. Anak yang cerdas menunjukkan gerakan-gerakan yang lancer, serasi, dan koordinasi, sedangkan anak yang kurang cerdas, gerakan-gerakannya kaku dan kurang terkoordinasi, anak yang cerdas cepat pula perkembangan bahasanya[8]. Dalam hal ini, peran orang tua sangat menentukan proses perkembangan intelegensi Bayi. Karena walaupun bayi belum sepenuhnya bisa menyerap apa yang diperlihatkan orang tuanya. Tetapi kemampuan pengenalan bahasa dasar seperi kata mama dan papa akan mengukuhkan pengenalan orang tua sebagai pelindungnya.
b. Perkembangan Inteligensi Masa Pra sekolah
Menurut Piaget, perkembangan kognitif pada usia ini berada pada periode pre operasional yaitu tahapan anak belum mampu menguasai operasi mental secara logis. Periode ini ditandai dengan berkembangnya representasional atau simbolik function, yakni kemampuan menggunakan sesuatu untuk mewakili sesuatu yang lain dengan mengguanakan symbol (kata-kata, gesture atau gerak tubuh dan benda). Dapat juga dikatakan sebagi semiotic function, kemampuan untuk menggunakan symbol-simbol dalam melambangkan suatu kegiatan[9]
Orang tua masih sebagai factor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan inteligensinya. Ketika anak diperkenalkan berbagai jenis permainan yang bersifat ruang dan bentuk dengan pendampingan orang tua. Permainan tersebut akan mengenalkan anak dengan berbagai bentuk yang ada di sekitarnya.
c. Perkembangan Inteligensi Anak Pada Masa Sekolah
Pada Masa ini anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif[10].
Faktor lingkungan yang berpengaruh pada masa ini, adalah lembaga pendidikan formal tempat anak belajar. Disanalah anak akan diperkenalkan dengan kegiatan membaca, menulis dan berhitung yang akan meningkatkan kapasitas inteligensinya. Dengan kegiatan membaca, lebih banyak kosa kata yang diterima anak dan pemahaman kalimat yang merupakan bentuk asosiasi kata. Begitu juga dengan kemampuan menulis. Kegiatan berhitung juga mengembangkan kemampuan numeriknya.
d. Perkembangan Inteligensi Pada Masa Remaja dan Dewasa
Perkembangan intelektual pada masa ini meupakan lanjutan dari masa sekolah. Pada masa remaja dan selanjutnya perkembangan inteligensi lebih ditekankan pada proses pengambilan keputusan yang akan mempengaruhi masa depannya. Faktor lingkungan yang berpengaruh selain sekolah dan orang tua. Perbedaannya pada masa dewasa tingkat kompleksitas dan kerumitan masalah yang dihadapi jauh lebih tinggi. Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah jenjang pendidikan dan lingkungan kerjanya.



Faktor Social Economi
a) Sosial ekonomi keluarga
Dengan sosial ekonomi yang memadai, seseorang lebih berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku, alat tulis hingga pemilihan sekolah, dan kurang mendapatkan nutrisi yang memadai pula. Begitu juga sebaliknya dengan sosial ekonomi yang kurang memadai, seseorang juga kurang mendapatkan kesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang baik dan nutrisi yag baik.
b). Pendidikan orang tua
Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, dibandingkan dengan yang mempunyai jenjang pendidikan yang lebih rendah.[11]

4. Faktor Education
Yang pasti kecerdasan dalam diri anak tidak muncul begitu saja. Di luar potensi yang diberikan, sebetulnya cerdas juga berarti ketekunan memelajari sesuatu. Selain pendidikan yang diberikan orang tua di rumah, peran sekolah juga tidak kalah besar. Boleh dibilang sekolah merupakan rumah kedua bagi anak yang memungkinkannya mentransfer pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai kehidupan.
IQ dipengaruhi oleh "school attendance"
Penelitian-penelitian dalam inteligensi membuktikan bahwa inteligensi dipengaruhi oleh school attendance. Penelitian itu antara lain :
a. IQ dipengaruhi oleh “delayed schooling”.
Peneliti-peneliti di Afrika Selatan meneliti fungsi intelektual terhadap penduduk lokal. Untuk setiap tahun “delayed schooling”, terjadi penurunan IQ sebesar 5 poin. Hasil penelitian ini juga sudah ditemukan di AS.
b. Drop out dari sekolah dapat menurunkan IQ.
Penelitian ini dilakukan di Swedia, dan mendapatkan hasil bahwa terjadi penurunan IQ sebesar 1,8 point bagi mereka yang tidak menyelesaikan sekolahnya (drop out).
c. IQ dipengaruhi oleh “remaining in school longer”.
Penelitian ini dilakukan di AS, dan memberikan hasil bahwa terjadi penurunan IQ yang cukup signifikan bagi mereka yang lebih lambat menyelesaikan sekolah pada waktunya.
d. IQ dipengaruhi oleh “summer vacation”.
Penelitian ini juga dilakukan di AS terhadap siswa yang mengambil liburan musim panas. Siswa yang liburan mengalami penurunan IQ setelah mereka masuk kembali ke sekolah dibandingkan sebelum mereka liburan.

IQ : “on the rise”
Poin IQ meningkat sekitar 20 poin dalam setiap generasi. Efek ini disebut dengan nama “Flynn Effect” yang berasal dari nama peneliti Selandia Baru, James Flynn. Jika kita mengikuti tes IQ sekarang dan membandingkannya dengan norma skor tes yang diikuti oleh kakek kita 50 tahun yang lalu, 90% dari kita akan digolongkan “genius”, tetapi jika skor kakek kita dulu dibandingkan dengan norma sekarang, maka mayoritas dari mereka akan digolongkan “terbelakang mental (mentally retarded)”. Kenaikan nilai IQ ini dapat dihubungkan dengan beberapa faktor, antara lain : nutrisi yang lebih baik, sekolah, orangtua yang lebih terdidik, lingkungan yang lebih kompleks, dan permainan-permainan seperti komputer dan konsol game.

IQ dipengaruhi oleh “school cafeteria menu”
Penelitian ini dilakukan tehadap kurang lebih 1 juta siswa di kota New York, dan menghubungkannya dengan menu di kantin sekolahnya. Hasilnya membuktikan bahwa diet makanan dapat mempengaruhi fungsi otak. Makanan-makanan tertentu, seperti ikan, sayuran, dll, dapat mempengaruhi kerja fungsi otak, sehingga dapat juga berpengaruh terhadap IQ. Makanan-makanan seperti makanan cepat saji (junk food) tidak memberikan pengaruh apa-apa bagi perkembangan otak. [12]

[1]http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah06309-01.htm
[2] http://ichaseruni.multiply.com/journal/item/22
.
[3] http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=830
[4] Azwar Syaifuddin, Psikologi Inteligensi, Pustaka Pelajar : Yogyakarta, 2006,hlm. 74
[5] http://ichaseruni.multiply.com/journal/item/22
[6] http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah06309-01.htm

[7]Azwar Syaifuddin, Psikologi Inteligensi, Pustaka Pelajar, : Yogyakarta,2006, hlm. 75
[8] Arif Ainur rofiq, Sistematika Psikologi Perkembanagn Islami, Penerbit arkola; Surabaya,2005, hlm. 34
[9] Ibid,.hlm. 46
[10] Ibid.,hlm. 52
[11] http://kosongdelapan.com/

[12] http://ichaseruni.multiply.com/journal/item/22

Tidak ada komentar: